Minggu, 16 November 2008

SUMPAH PEMUDA YANG KIAN TAK BERARTI

Peran pemuda kini memang patut dipertanyakan, terlebih ketika bangsa Indonesia sedang memperingati 80 tahun Sumpah Pemuda, namun sejumlah pemuda di Indonesia nyaris telah kehilangan makna Sumpah Pemuda itu sendiri. Terbukti banyak dari generasi Indonesia yang tidak mengerti dengan makna sumpah pemuda. Bahkan sebagian generasi masa kini tak hafal dengan poin-poin sumpah pemuda yang lahir dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.
Saya pernah menonton berita di salah satu stasiun televisi swasta. Yuni, misalnya. Mulut wanita ini seolah menjadi kaku saat ditanya butir-butir sumpah pemuda. Pun demikian dengan Dinop. Dia harus mengingat lama tapi tetap juga tak bisa hafal. Niken juga tidak tahu. Bahkan dia harus bertanya pada teman di sebelahnya. Sebenarnya, kita sendiri bisa bertanya kepada diri sendiri, masih adakah maknanya di era sekarang ?
Jika masih belum percaya, kita bisa saja melakukan survei di lingkungan sekitar. Tanyakanlah kepada anak-anak muda, misalnya mahasiswa dan pelajar. Cukup dengan menanyakan poin-poin sumpah pemuda atau sejarah dan latar belakang lahirnya sumpah pemuda itu sendiri. Kita pasti akan menemukan Yuni-yuni lainnya yang kesulitan menjawab butir-butir sumpah pemuda.
Sepertinya Indonesia tengah mengalami kemunduran dalam mengkaderisasi generas penerus bangsa. Karena Semangat nasionalisme untuk membela tanah air kian luntur dan semakin tak berarti. Tampaknya, sumpah pemuda kini hanyalah sekedar semboyan-semboyan yang harus dihapal dalam pelajaran sejarah. Ia tak lagi ada artinya dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Sumpah Pemuda dan sejarahnya
Sumpah Pemuda, yang diikrarkan para pemuda yang tergabung dalam berbagai ‘joung’ pada 28 Oktober 1928 ikut menandai sejarah perjalanan bangsa ini.Semangat baru ini dikobarkan para pemuda di tengah masa penjajahan. Tujuannya satu, mencapai cita-cita kemerdekaan.
Pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 yang diprakarsai oleh PPPI (Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia), para peserta kongres yang terdiri dari wakil organisasi Pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, atau PPI, berhasil merumuskan sebuah tekad untuk menyatukan sikap nasionalisme yang mengakui tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu, yakni Indonesia.
Sumpah Pemuda, Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 dan Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah “benang merah” sejarah perjuangan untuk mencapai Indonesia yang berdaulat.
Aneka peristiwa mewarnai pejuangan tiga tonggak sejarah itu. Antara periode tersebut selalu ditandai dengan semangat perjuangan dengan mendepankan persatuan, kesatuan dan tujuan kemerdekaan. Pada saat itu, orang berbicara tentang pentingnya kesatuan, karena melihat kondisi kehidupan masyarakat terpecah-pecah oleh kolonialisme Belanda.
Saat dicetuskan, Sumpah Pemuda didasari keinginan memiliki satu bangsa, satu bahasa dan tanah air. Tak ada tercetus niat membentuk satu negara, karena penjajahan menjadikan niat ini sebagai satu hal “tabu” dan terlarang.

Makna Sumpah pemuda sekarang
Kami putra-putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia
Kami putra-putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia
Mari kita lihat makna sumpah pemuda di era globalisasi. Masih adakah semangatnya sekarang ? atau ini hanyalah sejarah masa lampau yang harus dikenang dan dituliskan di buku sejarah.
Pertama adalah kalimat mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia. Saya rasa semua orang memiliki rasa cinta pada tanah airnya masing-masing. Akan tetapi, mereka mungkin belum bisa mengungkapkan rasa cinta itu dengan tindakan-tindakan yang sesuai. Misalnya para pelajar yang gemar tawuran padahal jelas di atas disebutkan bahwa bertanah air satu yang artinya mempunyai rasa saling memiliki terhadap negara tercinta kita ini. Ataupun pertikaian antar mahasiswa yang sering mengiris hati. Padahal kita semua tahu, mahasiswa adalah the agent of change (agen perubahan) . walaupun mahasiswa merupakan peran utama dalam melahirkan reformasi. Momentum reformasi 1998 hingga berhasil menggeser rezim Orde Baru dari singgasana kekuasaannya pun tak luput dari peran kaum muda yang dipelopori oleh barisan mahasiswa kita.
Mahasiswa memang memiliki peranan yang penting dalam kehidupan sosial. Karena ia adalah pejuang aspirasi rakyat. Meskipun demikian, kita juga harus jujur mengakui bahwa dinamika kaum muda saat ini tidak selalu bergerak pada ranah pemikiran dan aksi yang cerdas dan mencerahkan. Tidak sedikit kaum muda yang gampang terjebak melakukan tindakan anomali sosial demi memanjakan nafsu dan ambisi sekelompok orang yang dengan amat sadar memanfaatkan potensi dan talenta mereka. Demo-demo anarkhis dan vandalistis yang ditandai dengan aksi perusakan fasilitas publik, bukanlah semata-mata inisiatif murni kaum muda yang ingin melakukan sebuah perubahan, melainkan diduga telah disetir dan digerakkan oleh kelompok tertentu yang paham betul tentang potensi gerakan kaum muda sebagai generasi pendobrak. Kelompok tertentu inilah yang dianggap dengan amat sadar melakukan gerakan-gerakan terselubung dengan memanfaatkan kaum muda sebagai tameng untuk menciptakan situasi keruh dan tidak menentu dalam upaya menggapai puncak ambisi dalam ranah kekuasaan. Tapi seharusnya mahasiswa harus berpendirian teguh dan tidak mau dengan begitu saja diakomodir oleh pihak tertentu.
Pertikaian tidak hanya terjadi dikalangan mahasiswa dan pelajar yang merupakan generasi penerus bangsa tetapi juga pertikaian antarsuku di Indonesia yang sering terjadi. Yang perlu dipahami dalam kalimat Kami putra-putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia adalah kata "mengaku" yang diartikan mengaku dengan jiwa raga. Bukan mengaku hanya dibibir saja tanpa mendalami makna yang sesungguhnya dengan melakukan tindakan-tindakan yang mencerminkan ucapan kita itu.
Yang kedua adalah mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Bangsa adalah sekelompok manusia yang dipersatukan karena memiliki persamaan sejarah, cita-cita, karakter, dan hasrat yang terikat oleh tanah air yang sama. Dalam pengertian bangsa ini, kita dapat melihat bahwa setelah mengaku bertanah air satu kita pun mengaku berbangsa yang satu. Para pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda II pun bersatu dengan berbagai perbedaan tapi memiliki satu persamaan yaitu hasrat ingin menyatukan tanah air Indonesia. Jika dibandingkan dengan keadaan kita sekarang, kita terkadang malah lebih mencintai negara lain. Contohnya banyak saya temukan di sekitar saya. Teman-teman saya lebih menyukai negara Jepang dibandingkan Indonesia. Mereka lebih tahu sejarah, budaya, dan keadaan Jepang dibanding dengan Indonesia. Mereka sering berkata,"Indonesia itu apa? Lihat Jepang mereka jauh lebih maju daripada kita padahal mereka pernah dibombardir Amerika. Bagaimana dengan Indonesia? Sudah 62 tahun tapi tidak maju-maju juga." Saya akui saya sendiri pun menyukai manga Jepang tapi tidak sampai melupakan tanah kelahiran saya sendiri. Ingat jangan pernah melupakan tanah kelahiran kita sendiri meski bagaimanapun keadaannya.
Yang ketiga adalah menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Nah, hal ketiga inilah yang seringkali kita abaikan. Pemuda-pemudi sekarang lebih menyukai bahasa-bahasa gaul seperti gue, lo, dan sebagainya. Apakah kata-kata seperti itu ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia? Ya, mungkin saja ada setelah beberapa tahun lagi atau setelah pemerhati bahasa Indonesia sudah lelah dan mengalah untuk memasukkannya ke dalam kamus layaknya mantra-mantra Harry Potter yang dimasukkan ke dalam ejaan bahasa Inggris. Selain kata, definisi kata pun sering disalah artikan. Contohnya kata secara yang entah karena apa artinya menjadi sebab. Lalu pencampuran bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris yang sering terjadi.
Selain itu penggunaan bahasa Indonesia yang kian diminimalisir. Lihat saja, lagu-lagu Indonesia sudah banyak yang berlirik bahasa Inggris, dialog-dialog di sinetron dan film memakai selipan bahasa Inggris, ngobrol dengan teman memakai bahasa Inggris, bahkan memesan kopi di angkringan Jogja pun sudah bisa memakai bahasa Inggris, “Pak Jo, black coffee, please!“. Memang bukan hal salah dan buruk bila bahasa Inggris merasuki kehidupan sehari-hari kita, justru itu membuatnya semakin berwarna. Tetapi penggunaannya juga harus disesuaikan dengan waktu, tempat, dan tujuan. Di kelas, memang tempatnya. Di kantor, urusan bisnis. Di kelompok belajar, untuk belajar.
Di saat kita prihatin dengan bahasa Inggris yang sudah mulai menggeser posisi bahasa Indonesia, ada saja yang ikut memperparah keadaan. Ya, apalagi kalau bukan bahasa gaul? Bahasa yang entah datang dari mana ini menjadi suatu imej baru bagi mereka yang ingin dicap gaul. Sedangkan gaul sendiri entah apa artinya. Kata secara digunakan tidak pada tempatnya dengan sengaja, ’saya’ dirubah menjadi akika atau eike, belum lagi mene ketehe’, bo’, sumpe lo, dan istilah-istilah lain yang entah diciptakan siapa. Tapi memang harus diakui bahwa istilah-istilah gaul ini cukup ampuh sebagai tagline iklan-iklan komersil. Dan sebenarnya saya pun termasuk salah satu yang terjangkit gaulisme ini dengan ikut-ikutan memakai istilah yang hanya dimengerti sejumput orang tertentu, seperti cenger dan ciplokanong. Entah apa artinya.
Sekarang coba bayangkan bila dalam beberapa tahun ke depan semua orang berbicara dalam bahasa Inggris yang dicampur bahasa gaul dan bahasa Indonesia menjadi suatu hal yang langka di kalangan anak muda. Lantas di mana identitas sebagai bangsa Indonesia? Ingin seperti negara Commonwealth, tidak bisa karena tidak semua orang Indonesia bisa berbahasa Inggris. Mengaku sebagai bangsa Indonesia yang bermartabat dan mempunyai rasa nasionalisme tinggi juga bukan, karena semakin sedikit orang yang bangga berbahasa Indonesia. Lalu apakah kita harus menjadi Negara Gaul?
Belajar bahasa Inggris itu baik. Kita tidak mau tertinggal di jaman yang semakin cepat ini kan? Kalau orang lain bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dan kita tidak mengerti, hal ini juga berarti kerugian kita tidak bisa menangkap informasi. Bahkan sekarang bukan hanya bahasa Inggris saja yang populer melainkan juga bahasa Perancis, Spanyol, Cina (Mandarin), Jepang, Korea, dan Arab. Sebagai sebuah bangsa yang ingin maju kita harus menyesuaikan diri dengan perkembangan. Namun bukan berarti kita meninggalkan identitas kita. Pelajarilah bahasa apapun. Belajarlah bahasa Inggris, Perancis, Cina dan sebagainya untuk kebaikan bangsa ini. Dengan mengerti bahasa asing diharapkan kita bisa menyerap ilmu-ilmu yang mereka miliki, lalu mengajarkan ilmu itu pada orang lain sehingga menjadi sebuah kebaikan dan kemajuan bagi bangsa Indonesia. Kita belajar bahasa Inggris adalah untuk bisa membaca buku-buku dalam bahasa Inggris, berkomunikasi dengan orang yang berbahasa Inggris, menonton berita berbahasa Inggris, dan dan hal-hal lain yang bertujuan untuk membuat kita mampu menangkap informasi lebih. Kita belajar bahasa Inggris bukan untuk menjadi orang Inggris.
Harusnya kita bangga dengan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan telah menjadi identitas bangsa Indonesia. Karena Bahasa-lah yang bisa menunjukkan kebanggaan kita. Karena memang dari bahasa lah sebuah eksistensi sebuah bangsa dapat terlihat. Demikianlah sebuah sumpah tentang nasionalisme. Tapi, kenyataannya bahasa Indonesia kian tersingkirkan dengan Bahasa Asing. Rasa nasionalisme itu hampir lenyap ditelan masa dan karatnya tingkah anak bangsa.
Kita harus menyadari bahwa masa depan bangsa ini terletak pada etos kerja dan semangat kaum muda.Dalam sejarah bangsa manapun di dunia , kaum muda tetap menduduki posisi penting pada setiap perubahan tatanan sosial. Arah dan perjuangan bangsa terletak pada sikap kritis dari kaum muda.Perbaikan keadaan yang buruk tertumpu pada kaum muda.
Tapi, akankah semangat itu menyala atau malah semakin meredup ? jawabannya adalah HARUS. Karena semangat sumpah pemuda harus dibangkitkan kembali. Para pemuda harus bangkit dan kembali berperan dalam pembangunan bangsa. Indonesia tengah menanti tangan-tangan dingin para pemuda-pemudi, generasi penerus cita-cita para pemuda terdahulu. Pemuda harus memberikan karya terbaiknya dalam memajukan bangsa ini. Dan kita harus mengembalikan makna sumpah pemuda yang kini tengah memudar dan semakin tak berarti lagi.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda